Skip to main content

Rintih dibawah senja

Oleh Siti Halimah

Waktuku telah terbuang.
Hingga air mata tak mampu lagi tuk Keluar.
Berwaktu-waktu ku disana, menunggu, menunggu dan menunggu.
Apa dia tak tau bahwa aku disini mencemaskannya ?? 
Angin hanya bisa menembus bajuku, 
Tapi tak bisa menembus hatiku. Senja, senja dan senja…

Tepat waktu itulah aku kembali bergegas kehunianku.
Bertemu Ayah dan Ibuku.
Sebenarnya, aku sedih.
Tak pernah ada kabar darinya.
Hari-hariku dipenuhi dengan Rintih dan rasa kecewa.
Kelam dan Mendung, Sunyi dan Sepi.
Aku Melepaskan rasa itu pada Senja yang Dia beri .

Comments

Popular posts from this blog

Ujian Pertama di Bulan Puasa

Siang pertama di bulan puasa bukanlah penyebab bintik-bintik keringat yang mulai bermunculan di kening para mahasiswa. Penyebabnya adalah ujian lisan mata kuliah Psikologi Pendidikan, dan wajah Bu Esti, dosen penguji, yang dalam sekejap bisa mengubah bintik keringat itu menjadi tetesan.  Satu julukan untuk Bu Esti: Dosen Tanpa Ampun Terlalu lurus, terlalu disiplin, terlalu kaku. Wajahnya datar nyaris tanpa ekspresi Tapi sorot matanya bisa melunturkan keberanian sebelum satu kata pun terucap. Beberapa mahasiswa  yang mendapat giliran sehari sebelumnya dikabarkan kehilangan suara, bahkan ada yang keluar dengan mata merah mau menangis. Di depan ruang sidang, sebuah lorong panjang menjadi tempat para mahasiswa menunggu giliran. Suasana hening, kecuali beberapa bisik- bisik panik dan buku catatan yang dibolak-balik tanpa benar-benar dibaca.  Pintu ruang sidang terbuka. Asisten Bu Esti muncul, menyampaikan pesan bahwa siapa pun yang siap, dipersilakan maju lebih dulu.  Tak...

Ten Thousand Lifetime

I will search for you through a Thousand Worlds and Ten Thousands of a Lifetime . Until I find you 47 ronin

Kepingan

Dari kepingan kepingan tersisa Dari reuntuhan bangunan cinta Kubangun harapan harapan baru Tak mudah, tapi juga tak sulit Bersama kita bangun Gubuk hangat kasih sayang 24jan19