Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisiku

Terjebak

Kau menjebakku dalam cinta tak berkesudahan. Ketika aku meninggalkanmu hanya agar kau bisa mencintai dirimu sendiri, aku terpojok di bangunan rapuh menyendiri. Juga ketika Aku ingin memelukmu erat hanya agar aku kuat melangkah,  kemudian mendudukkanmu di kursi reyot senja kehidupan. Tak kuasa juga aku melakukannya, aku tak ingin ada tangis kedua di pipi manismu....

Memaki

Memakimu.... !! Itu yang seharusnya kulakukan Kala kau membunuhku Dengan ketakjujuranmu ... Memakimu... Percayalah tak akan kulakukan itu Justru kata cinta Dan erat genggam tanganmu Karena cinta Bukan tentangmu padaku Cinta adalah tentangku padamu.... fsw/071117

Aku melakukan kesalahan

Aku melakukan kesalahan, ketika melihat kebenaran hanya ada pada kata kataku saja. Kesalahan ketika melangkah berdasar kebenaran pendapatku belaka. Menganggap aku bisa memenuhi harapnya tanpa bertanya Kini aku mendapat pelajaran Bahwa kebenaran tak hanya dari pendapatku semata Kebenaran juga bukan hanya miliknya semata Kasih sayang antara kita yang utama Kini, aku selalu menghadirkan pelukan Setiap malam saat aku bersamanya Tak kupedulikan kebenaranku sendiri Memelukmu adalah kebenaran yang selalu kuperjuangkan

Waktu

Selalu ada masa lalu Karena detak jam selalu maju Kaulah cintaku Teman saat tuaku 130617

Ombak

Seperti ombak menghantam, tak ada yang lebih kejam dari rindu yang menghujam 150617

Kalau

kalau kau marah bersandarlah di bahuku kalau kau cinta peluklah aku kalau kau tak berdaya berpegang tanganlah denganku tak kan kubiarkan dirimu sendiri berlalu 200617

Abadi

Sebelum hari berlalu Sebelum senja memudar  Sebelum menjadi abu...  Kan kukatakan satu Hari hari bersamamu abadi selalu

Puisiku

Mengenangmu adalah cinta Tatapanmu adalah matahari hati, Air matamu adalah sungai kehangatan, Genggammu adalah harapan, ku pernah berjanji menjaganya Ucapmu adalah pelita, Kehilanganmu adalah petaka, yang membuatku berpuisi sepanjang hidup 25102013

Aku (tidak) mengenang luka

Aku (tidak) mengenang luka Sekarang Aku tidak mengenang luka Yang kau torehkan padaku Bukan, bukan itu Aku mengenang, adakah aku Memberimu luka dahulu Pada saat saat engkau bersamaku Saat awal bertemu, Satu tangismu kutemui Kau bicara tentang luka cinta pertama Tangisan keduamu yang kutemui Adalah saat aku berpisah darimu Berpuluh pisau menusuk Sekarang aku tak ingin memberimu tangis ketiga Aku merindumu Juga aku tak mampu memelukmu lagi Cukuplah kau tahu Ternyata cinta saja tak cukup untuk menyatukan mimpi yang berbeda

K A U

Kaulah yang membuatku berpuisi Seribu puisi cinta Seribu puisi derita Kaulah yang membuatku tersenyum Sejuta bahagia Seratus tangisan Kaulah kenanganku itu Tak terkira ceritanya Tak kukenang sendiriku

Butuh

Lebaran tak lama lagi Sepuluh hari dari sekarang Matamu menerawang Gelisah karena ketiadaan Tak seperak duit tergenggam Beratus butuh menampakkan diri Anak butuh baju baru Bini butuh kutang baru Emak dikampung menunggu Kamupun butuh sesuatu Di Pasar Tiba tiba mata berbinar Seorang ibu berbaju kuning norak Perhiasan menumpuk ditubuh gendut Ditangan gelang emas berjajar delapan Dileher terkalung bagai rantai kapal Tak butuh lama kamu berpikir Inilah jalan memenuhi butuh Di Pasar jugalah Hidupmu tak berlanjut Ditikam pisau tukang daging Dihantam batu tukang parkir 1436H

Pelangi

Lama pelangi tak nampak Di bentang cakrawala Kemarau musnahkan warna Danau menjadi coklat Tanah gersang mengabu Kau pun kurus memucat fsw, 171015

Desir Angin

Setia menemani

Pagi kau berlari bersama teman Menjumput asa mencari cinta Siang hari kau berjalan sendiri Ditinggal janji hidup bersama Ingin hasratmu tetap menyala Memenuhi janji memeluk dunia Pada Senjamu kau ingin berjalan sendiri jua Setelah semua lelah tak berbalas Tapi aku tetap disini ingin menemanimu Bersama waktu menunggu panggilanNYA

Senja mendua

Tak habis habisnya Aku bercerita tentang senja Sungguh aneh tentangnya Apakah aku yang tak biasa... Di senja aku bertemunya Sejak itu tak henti tawa canda Tak henti seribu kisah cinta mengiring Di senja berikutnya Ada puisi kucipta Berpuluh ribu kata Aku harus melepasnya pergi Kesedihan dan rindu dalam kata Sungguh aneh tentangya Di waktu senja Kubertemu cinta Di waktu senja juga Aku melepasnya 080915

Mencari

Aku mencarinya ke kanan aku mencari ke atas aku mendaki ke seberang aku arungi ke bumi aku selami tak jumpa jua ku pejam mata dalam hening zikir aku menjumpaiNYA!!

Kenang

Di Tangerang Ku mengenang Di pojok ruang Kau yang riang Dan air mata menggenang Dan dosa yang tak hilang

Perjalananku

Telah kutulis sejarahku Pada kertas putih yang dipinjamiNYA Penaku kadang bertinta emas Seringnya bertinta hitam Tidak kusesali tulisan yang kutorehkan Cerita yang tertulis adalah keabadian PadaNYA buku ini kukembalikan

Pelukmu

Peluk yang kau hadirkan Bertahun lalu Masih hangat Hari ini Membawa senyum Diwajahku 040915

Ketika Semua Putih

ketika semua putih akankah itu membosankan..?? Begitulah perbedaan diciptakan, agar ada pelangi dihidup...