Skip to main content

Posts

Demi

Demi ego Aku campakkan ulur tangan persahabatanmu Demi ego Kau tolehkan pandang dari senyumku mengembang Kau dan aku Sama sama tahu Dua jiwa bersatu Dua pikir memadu Merubah hitam putih jadi warna Demi ego Kau dan aku Tak mau bersatu Fsw/1014

Jiwa Merdeka

wahai jiwa merdeka katakan padaku bagaimana kau melewati waktu kelam yang kau tempuh dahulu waktu senang yang kau arungi dahulu dan bagaimana kau tetap merdeka dalam waktumu sekarang berbagilah denganku agar jiwaku tetap merdeka jua

Tanyakan pada diri sendiri, "mengapa?"

Seorang pekerja wanita berangkat dari rumahnya ke kantor dengan menggunakan bus antar-jemput yang mengantarkan terlebih dahulu pekerja lain di beberapa kantor di sekitarnya. Bus itu mengantarkan wanita tadi satu jam lebih awal dari jam kerjanya. Saat pulang kerja, bus itu menjemputnya ke kantor sekitar 50 menit setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Secara keseluruhan dua jam telah terbuang percuma sehingga ia menjadi lelah. Apalagi ia harus bangun pagi agar tidak tertinggal bus jemputannya itu, yang akhirnya ia mengorbankan waktu tidurnya juga. “Mengapa engkau tidak menggunakan kereta saja? Layanan seperti itu lebih mewah, tepat waktu, murah, dan nyaman,” kata seseorang kepada wanita itu. “Saya tidak pernah menggunakan kereta dalam hidup saya.” “Tapi kereta lebih murah beberapa puluh ribu setiap  bulannya dibandingkan membayar bus.” “Tidak, aku tidak menggunakan taksi dan kereta karena ini adalah aturan hidup saya.” “Mengubah aturan dan mulailah menggunakanya, banyak kok par...

Manfaat Pengalaman

Kebenaran yang agung ada pada kita Panas dan dingin, duka cita dan penderitaan, Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga Bersama, supaya kepingan kita yang paling dalam Menjadi nyata. ~ Jalaluddin Rumi ~

Donor darah

Kali ini, ikut serta dalam Donor Darah yang diselenggarakan Legend Premium Cafe, dalam memperingati Ulang Tahunnya pada 12 Oktober 2014. Semoga Donorku kali ini membawa kebaikan bagi diri dan lingkungan

Wahai Kekasih, Dekap Aku dalam Cintamu

Oleh Jalaluddin Rumi Asap yang menari bersama cinta – Wahai Kekasih, dekap aku seperti asap yang menari itu Panas yang membakar dalam api Wahai kekasih, dekap aku seperti panas membakar api Lilin cintaku terbakar oleh rasa kangen Seperti lelehan lilin ia menangis Seperti sumbu lilin yang terbakar habis Wahai kekasih, dekap aku seperti lilin yang meleleh karena sumbunya terbakar api Saat sekarang kita berjalan bersama menyusuri jalan cinta Tak dapat kita tidur lagi malam-malam Di rumah penginapan pemusik menabuh genderang dan drum – Wahai Kekasih, dekap aku seperti pejalan dan pemusik itu Malam gelap, para pecinta tak terlelap Jangan ganggu mereka dengan keinginan untuk tidur sejenak Satu yang mereka inginkan, di sini bersama kita Wahai Kekasih, dekap aku seperti para pencinta luapkan cinta Penyatuan diri bagaikan sungai yang mengalir dengan sepenuh godaan menuju laut Malam nanti bulan akan mencium bintang-bintang Majnun menjelma Laila – Wahai Keka...

Ibu harus mau diganggu...!!

Seorang dokter yg bertugas di sebuah desa sedang berkeliling ke rumah warga lalu mampir di rumah seorang petani, ia terkesan oleh kepandaian dan sikap ramah dari anak si petani yg menyambut kedatangannya. Usianya kira-kira 5th, sang dokter penasaran mengapa anak itu begitu ramah. Tak lama ia menemukan jawabannya, tatkala ibu anak itu tengah sibuk di dapur mencuci piring-piring dan perkakas dapur yg kotor, si anak datang kepadanya dengan membawa sebuah majalah "Bu, apa yg sedang dilakukan pria dalam foto ini?", tanyanya. Sang dokter tersenyum kagum ketika melihat ibu anak itu segera mengeringkan tangannya, duduk di kursi, memangku anak itu dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit utk menerangkan serta menjawab berbagai pertanyaan buah hatinya.    Setelah anak itu beranjak pergi sang dokter menghampiri ibu itu dan berujar, "Kebanyakan ibu tidak mau diganggu saat ia sedang sibuk? Mengapa ibu tidak seperti itu?" Dengan senyum si ibu menjawab, "Saya ...