Skip to main content

Tanyakan pada diri sendiri, "mengapa?"


Seorang pekerja wanita berangkat dari rumahnya ke kantor dengan menggunakan bus antar-jemput yang mengantarkan terlebih dahulu pekerja lain di beberapa kantor di sekitarnya. Bus itu mengantarkan wanita tadi satu jam lebih awal dari jam kerjanya. Saat pulang kerja, bus itu menjemputnya ke kantor sekitar 50 menit setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Secara keseluruhan dua jam telah terbuang percuma sehingga ia menjadi lelah. Apalagi ia harus bangun pagi agar tidak tertinggal bus jemputannya itu, yang akhirnya ia mengorbankan waktu tidurnya juga.

“Mengapa engkau tidak menggunakan kereta saja? Layanan seperti itu lebih mewah, tepat waktu, murah, dan nyaman,” kata seseorang kepada wanita itu.

“Saya tidak pernah menggunakan kereta dalam hidup saya.”

“Tapi kereta lebih murah beberapa puluh ribu setiap  bulannya dibandingkan membayar bus.”

“Tidak, aku tidak menggunakan taksi dan kereta karena ini adalah aturan hidup saya.”

“Mengubah aturan dan mulailah menggunakanya, banyak kok para profesional termasuk senior eksekutif yang menggunakan layanan kereta,” kata orang itu kembali.

“Tidak, aku tidak pernah menggunakan kereta.”

“Hidup Anda akan lebih mudah, apa gunanya tidak menggunakannya?”

“Tidak, aku bla…bla…bla.., aku tidak akan menggunakannya.”

“Ayo, coba besok. Satu hari saja. Aku tidak akan meminta Anda setelah itu,” kata orang itu lagi.

“Baiklah, jika Anda bersikeras, aku akan mencobanya,” kata wanita itu akhirnya.

Setelah beberapa hari kemudian.

“Pak, saran terindah yang Anda berikan pada saya.  Hidup saya kini jauh lebih santai. Saya sangat berterima kasih  kepada Anda atas sarannya. Dengan ini saya menghemat waktu, upaya, dan uang,” kata wanita itu.

“Sama-sama,” kata pria itu.

Apakah kita memiliki semacam paradigma dan prinsip-prinsip dalam hidup kita? Apakah kita memiliki pendekatan yang keras kepala ketika ada usaha mengubah kebiasaan kita? Apakah kita takut mencoba hal baru?  Apakah kita menyukai status quo? Jika ya, sayangnya kita tidak layak memiliki gaya hidup yang lebih baik. Namun, jika kita percaya akan sesuatu yang terjadi dan percaya pada perbaikan terus-menerus, maka kita harus berpikir sebaliknya.

Apa pun yang kita lakukan dalam hidup, tanyakan pada diri sendiri mengapa kita lakukan itu? Apa manfaat saya keluar dari itu? Alternatif apa yang bisa saya pertimbangkan dalam rangka meningkatkan apa yang saya lakukan? Siapa yang bisa kita cari untuk mendukung kita? Apakah ada lagi cara terbaik untuk melakukan ini? Haruskah saya benar-benar berhenti melakukan ini sama sekali?

 sajian apik dari Intisari Online

Comments

Popular posts from this blog

Ujian Pertama di Bulan Puasa

Siang pertama di bulan puasa bukanlah penyebab bintik-bintik keringat yang mulai bermunculan di kening para mahasiswa. Penyebabnya adalah ujian lisan mata kuliah Psikologi Pendidikan, dan wajah Bu Esti, dosen penguji, yang dalam sekejap bisa mengubah bintik keringat itu menjadi tetesan.  Satu julukan untuk Bu Esti: Dosen Tanpa Ampun Terlalu lurus, terlalu disiplin, terlalu kaku. Wajahnya datar nyaris tanpa ekspresi Tapi sorot matanya bisa melunturkan keberanian sebelum satu kata pun terucap. Beberapa mahasiswa  yang mendapat giliran sehari sebelumnya dikabarkan kehilangan suara, bahkan ada yang keluar dengan mata merah mau menangis. Di depan ruang sidang, sebuah lorong panjang menjadi tempat para mahasiswa menunggu giliran. Suasana hening, kecuali beberapa bisik- bisik panik dan buku catatan yang dibolak-balik tanpa benar-benar dibaca.  Pintu ruang sidang terbuka. Asisten Bu Esti muncul, menyampaikan pesan bahwa siapa pun yang siap, dipersilakan maju lebih dulu.  Tak...

Ten Thousand Lifetime

I will search for you through a Thousand Worlds and Ten Thousands of a Lifetime . Until I find you 47 ronin

Kepingan

Dari kepingan kepingan tersisa Dari reuntuhan bangunan cinta Kubangun harapan harapan baru Tak mudah, tapi juga tak sulit Bersama kita bangun Gubuk hangat kasih sayang 24jan19