Skip to main content

Posts

Rintih dibawah senja

Oleh Siti Halimah Waktuku telah terbuang. Hingga air mata tak mampu lagi tuk Keluar. Berwaktu-waktu ku disana, menunggu, menunggu dan menunggu. Apa dia tak tau bahwa aku disini mencemaskannya ??  Angin hanya bisa menembus bajuku,  Tapi tak bisa menembus hatiku. Senja, senja dan senja… Tepat waktu itulah aku kembali bergegas kehunianku. Bertemu Ayah dan Ibuku. Sebenarnya, aku sedih. Tak pernah ada kabar darinya. Hari-hariku dipenuhi dengan Rintih dan rasa kecewa. Kelam dan Mendung, Sunyi dan Sepi. Aku Melepaskan rasa itu pada Senja yang Dia beri .

K A U

Kaulah yang membuatku berpuisi Seribu puisi cinta Seribu puisi derita Kaulah yang membuatku tersenyum Sejuta bahagia Seratus tangisan Kaulah kenanganku itu Tak terkira ceritanya Tak kukenang sendiriku

Who is poor?

Worth reading. A wealthy woman goes to a saree store and tells the boy at the counter "Bhaiya show some cheap sarees. It is my son's marriage and I have to give to my maid." After sometime, the maid comes to the saree shop and tells the boy at the counter "Bhaiya show some expensive sarees. I want to gift my Mistress on her son's marriage" Poverty is in the mind or in the purse? Who is Rich? Once, a lady with her family was staying in a 3-star hotel for a picnic. She was the mother of a 6 month old baby. "Can I get 1 cup of milk?" asked the lady to the 3-star hotel manager. "Yes madam", he replied. "But it will cost 100 bucks". "No problem", said the lady. While driving back from hotel, the child was hungry again. They stopped at a road side tea stall and took milk from the tea vendor "How much?” she asked the tea vendor. "Madam, we don't charge money for kid's milk", the old man...

Maukah Kamu Menua Bersamaku?

Maukah Kamu Menua Bersamaku? Aku menanti saat kamu datang ke rumahku, mengetuk pintu, dan membicarakan tentang kita. Berbincang dengan orang tuaku agar mereka memberi restu atas perasaanmu. Aku belum terlalu mengenalmu, tapi ketahuilah, kamu terlihat sangat gagah saat berusaha menghalalkan rasa itu. Dan dengan pasti, aku menjawab lamaranmu berisyarat anggukan malu. Aku menanti saat kamu duduk di sebelahku, mengucap ijab kabul yang diiringi tangisan bahagiaku. Menyematkan cincin di jari manisku. Dan kita resmi menjadi satu. Aku menanti saat terbangun dan kutemukan kamu di sampingku. Kemudian, aku menuju dapur dan menyiapkan sarapan untuk kita. Aku menanti saat kita semakin menyatu, dalam buaian canda, rasa, dan gelora. Hingga aku tak malu lagi untuk memanggilmu “Mas,” dan kau tak ragu menyapaku “Dinda,”. Aku menanti saat perutku membesar, menjadikanku tak cantik di mata manusia lainnya. Tapi kita berbahagia, karena inilah buah cinta bukti cinta kita. Aku menanti saat aku mulai s...

Belajar dari Jogokariyan

Nama Masjid ini tidak terdengar Islami. Masjid Jogokariyan namanya. Arsitekturnya sederhana, tidak se ‘wah’ Masjid megah nan berlapis emas dengan arsitektur memukau. Pun tak sebesar Masjid lain di perkotaan yang dihiasi ornamen-ornamen memikat. Masjid Jogokariyan memang hanya Masjid kampung yang sederhana dengan dua lantai. Akan tetapi, soal manajemen dan kemakmuran rumah ibadah umat Islam, Masjid yang berlokasi di jalan Jogokariyan no. 36 Yogyakarta ini boleh dijadikan sebagai tempat studi banding. Jamaah Shubuh di Masjid ini separuh dari Jamaah Jum’at! Ramai sekali. Di saat banyak Masjid yang sangat bergantung pada sumbangan warga di sekitarnya, Masjid Jogokariyan malah tidak bergantung pada infaq dan shadaqah masyarakat. Bahkan, dengan manajemen yang profesional, keberadaan Masjid Jogokariyan justru membantu kehidupan ekonomi warga sekitar. Masjid Jogokariyan mampu menjadikan ekonomi berbasis Masjid sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Prinsipnya, “Jika pasar mengalahkan M...

Butuh

Lebaran tak lama lagi Sepuluh hari dari sekarang Matamu menerawang Gelisah karena ketiadaan Tak seperak duit tergenggam Beratus butuh menampakkan diri Anak butuh baju baru Bini butuh kutang baru Emak dikampung menunggu Kamupun butuh sesuatu Di Pasar Tiba tiba mata berbinar Seorang ibu berbaju kuning norak Perhiasan menumpuk ditubuh gendut Ditangan gelang emas berjajar delapan Dileher terkalung bagai rantai kapal Tak butuh lama kamu berpikir Inilah jalan memenuhi butuh Di Pasar jugalah Hidupmu tak berlanjut Ditikam pisau tukang daging Dihantam batu tukang parkir 1436H

Pelangi

Lama pelangi tak nampak Di bentang cakrawala Kemarau musnahkan warna Danau menjadi coklat Tanah gersang mengabu Kau pun kurus memucat fsw, 171015