Skip to main content

Rintih dibawah senja

Oleh Siti Halimah

Waktuku telah terbuang.
Hingga air mata tak mampu lagi tuk Keluar.
Berwaktu-waktu ku disana, menunggu, menunggu dan menunggu.
Apa dia tak tau bahwa aku disini mencemaskannya ?? 
Angin hanya bisa menembus bajuku, 
Tapi tak bisa menembus hatiku. Senja, senja dan senja…

Tepat waktu itulah aku kembali bergegas kehunianku.
Bertemu Ayah dan Ibuku.
Sebenarnya, aku sedih.
Tak pernah ada kabar darinya.
Hari-hariku dipenuhi dengan Rintih dan rasa kecewa.
Kelam dan Mendung, Sunyi dan Sepi.
Aku Melepaskan rasa itu pada Senja yang Dia beri .

Comments

Popular posts from this blog

Ten Thousand Lifetime

I will search for you through a Thousand Worlds and Ten Thousands of a Lifetime . Until I find you 47 ronin

Aku Ingin Melukis Rumah Untukmu, Anakku

Aku Ingin Melukis Rumah Untukmu, Anakku Sedang duduk kita di beranda Tangan-tangan kecilmu dan terang bola matamu Adakah bedanya Dengan gambar kecilku dulu Waktu kulukis rumah Tanpa pintu tanpa jendela Dan langit kelabu diatasnya Ingin kuhapus masa lalu Hari-hari terisak yang sukar engkau mengerti Sekarang dibelakangmu aku berdiri Sudahkah benar aku menjadi ayah Setelah memberimu beberapa Sesuatu yang tidak engkau pinta Namun aku harus melakukannya Selagi kental tinta kasih sayang kita Mungkin belum pudar persahabatan, kejujuran, Dan semua saja yang pernah kita bangun Menuliskan garis dan warna menawan Ingin aku melukis lagi sebuah rumah untukmu Dengan awan putih diatasnya Sebuah rumah yang terang Berpintu dan berjendela Agar bebas mengalir lalu lalang Bendera nurani kita 1995 Handrawan Nadesul